Kebijakan luar negeri Tiongkok di Asia Tenggara adalah faktor dominan yang membentuk dinamika geopolitik dan ekonomi di kawasan ini. Dengan inisiatif Belt and Road (BRI) dan klaim di Laut Cina Selatan, Tiongkok semakin memperkuat kehadirannya, memicu respons beragam dari negara-negara ASEAN.
Analisis menunjukkan bahwa Tiongkok berupaya meningkatkan pengaruh ekonominya melalui investasi infrastruktur berskala besar, yang mencakup proyek jalan, kereta api, dan pelabuhan. Proyek-proyek ini menjanjikan pertumbuhan ekonomi, namun juga menimbulkan kekhawatiran tentang jebakan utang dan kedaulatan.
Dalam hal keamanan, klaim Tiongkok di Laut Cina Selatan menjadi sumber ketegangan yang konstan, memaksa negara-negara Asia Tenggara untuk menyeimbangkan hubungan dengan Tiongkok dan kekuatan Barat lainnya. Fokus pada peran ASEAN dalam menjaga stabilitas regional menjadi semakin penting.
Meskipun demikian, beberapa negara Asia Tenggara melihat Tiongkok sebagai mitra dagang dan investasi yang tidak dapat dihindari, terutama untuk sektor-sektor seperti EV dan FoodTech. Mereka berupaya memanfaatkan peluang ekonomi sambil tetap menjaga kepentingan nasional dan kedaulatan.
Kebijakan luar negeri Tiongkok di Asia Tenggara, didorong oleh BRI dan klaim Laut Cina Selatan, meningkatkan pengaruh ekonomi melalui investasi infrastruktur, namun juga menciptakan ketegangan keamanan. Negara-negara ASEAN menyeimbangkan hubungan dengan Tiongkok demi menjaga kepentingan nasional.

