Asia Selatan, khususnya Pakistan dan Bangladesh, baru-baru ini dilanda gelombang protes terkait kenaikan harga pangan yang sangat drastis, dipicu oleh kombinasi faktor global dan kebijakan domestik yang rentan. Kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasokan global diperburuk oleh kebijakan subsidi domestik yang tidak berkelanjutan dan ketergantungan impor yang tinggi pada komoditas utama.
Studi kasus menunjukkan bahwa kenaikan harga komoditas global, seperti gandum dan minyak, secara cepat diterjemahkan menjadi tekanan inflasi lokal karena cadangan pangan strategis yang tipis. Pemerintah sering merespons dengan kebijakan kontrol harga dan subsidi yang tergesa-gesa, yang pada akhirnya hanya mendistorsi pasar dan memperburuk defisit anggaran, memicu protes lebih lanjut.
Isu sentralnya adalah ketahanan pangan. Alih-alih hanya berfokus pada intervensi harga jangka pendek, para ekonom menyarankan negara-negara Asia Selatan harus berinvestasi dalam modernisasi pertanian, manajemen pasca-panen, dan diversifikasi sumber impor untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak pasar global.
Gelombang protes harga pangan bukan hanya masalah ekonomi, tetapi cerminan dari kegagalan tata kelola. Stabilitas politik regional kini sangat bergantung pada kemampuan pemerintah untuk memastikan akses yang terjangkau terhadap kebutuhan dasar, menuntut adanya reformasi kebijakan impor, subsidi yang lebih bertarget, dan dorongan serius untuk swasembada pangan.

